Santy Travelling

Nov 30, 2007 at 17:02 o\clock

Coba Log In

Mirip gak ya ?

Di Petrosains, ketemu pakde Einstein, kita foto bareng.

Nov 28, 2007 at 16:33 o\clock

The favourite foods...... in here.........

Sulit mencari nasi di Singapore, yang ada di tempat makan berjenis masakan China. Akhirnya tiap hari makan di tempat makan India dengan menu Nasi Sembrani. (BERSAMBUNG)

Makanan nasi halal di restoran kampung glamMakan siang di Singapore Sicence Centre

Nov 28, 2007 at 16:13 o\clock

Manajemen Transportasi, dimata putriku.

Kalau MRT pas kosong seperti ini sih enak, tapi kalau penuh. Yang muda semua tahu diri, menyerahkan kursinya pada orang tua dan wanita hamil. (BERSAMBUNG)

.kita di stasiun IMBI Kuala LumpurInterior MRT Kuala Lumpur

Nov 28, 2007 at 15:52 o\clock

SINGAPORE SCIENCE CENTRE

Bermain Basah-BasahGerbang Wahana bertama Gerak Kinetic

Konsepnya mirip dengan Taman Pintar di Yogyakarta - Indonesia. (BERSAMBUNG)

Nov 26, 2007 at 16:09 o\clock

Sentosa Island, pantai Siloso

Pantai Siloso di Sentosa Island. Wajahku sudah mengkerut kemasukan angin, tapi Chita dan mama masih kegirangan. (bersambung)

Nov 26, 2007 at 15:03 o\clock

And what about Air Asia ?

Berbisnis Low Cost, tidak selalu memberi kesan murahan.

Sekian tahun yang lalu aku pernah berdiskusi dengan sorang sahabat, yang keluarganya punya banyak bisnis besar dan terkenal. Saat itu kami sama-sama sedang menunggui putri kami kursus ballet.

Kenapa tidak ada jutawan yang membeli lisensi sekolah Islam yang mahal, kemudian menarik SPP dengan harga murah, tapi mendapat murid sangat berkualitas? Sahabatku langsung menjawab, karena justru kesan murahan tadi yangakan mengancam kelangsungan nama baik sekolah itu, katanya.

Selanjutnya memang beberapa surat pembaca sering menuliskan bahwa rumah sakit memberikan senyum yang berbeda bagi masing-masing pasien sesuai klas kamar yang mereka pilih, konon katanya.

Pengalamanku waktu memeriksakan tambalan gigi di rumah sakit yang sama, juga sangat berbeda sewaktu masih pakai kartu asuransi dari kantor dan membayar biasa. Begitu perhatiannya sang dokter padaku yang saat itu berobat pakai asuransi swasta yang bonafit, sampai-sampai untuk menambal lobanggigiku aku mestidatang berkali-kali perawatan, yang kalau dijumlah total biaya kontrol dan obat sekitar Rp. 700.000 (tujuh ratus ribu rupiah) untuk menambal 1 gigi.

AND, WHAT ABOUT AIRASIA ?

Now anyone can fly, katanya dalam iklan.

Dengan biaya penerbangan yang sangat murah, (Jkt-Batam Rp.300.000 dan Kuala Lumpur-Jakarta Rp. 450.000). Secara teknis standar kenyamanan dan keselamatan yang kami terima sangat memuaskan. Mereka memang hanya menggunakan sedikit petugas, namun semua kegiatan teratasi dengan gesit dan tangkas karena didukung oleh IT yang selalu online. Penundaan penerbangan kuterima pemberitahuan dan permohonan mereka via sms sekitar 7 jam sebelum keberangkatan. Jadi kalau ada yang cerita naik airasia, sudah sampai di bandara ternyata pesawat didelay sangat lama, percayalah, pasti ini yang terbaik dalam rencana perjalanan Anda. Karena kondisi mendadak tersebut pasti sangat darurat. Dalam peraturan mereka, penundaan lebih dari 6 jam, justru mereka akan rugi besar karena berbagai penggantian, baik tiket maupun biaya sewa bandara.

Di Kuala Lumpur Airasia punya bandara sendiri namanya LCCT (Low Cost Carrier Terminal) Penampilan eksteriornya memang tidak mewah. Sepintas malah mirip gudang rabat Alfa atau Makro di Semarang. Tapi sisi interiornya cukup mewah dan menyenangkan sebagai bandara dengan jalur internasional.

Terimakasih AIRASIA. THANKS FOR YOUR REVOLUTION.

Banyak yang akan berubah dari karya mereka. Budaya untuk berkunjung ke negara lain, lambat laun akan menyebar sehngga transfer ilmu dan informasi akan kian pesat. Namun demikian, sering berada di luar negeri umumnya akan membuat seseoarng merindukan negaranya, dan menimbulkan niat untuk memperthankan jatidiri demi rasa rindu pada kenangan negara bunda, eh... ibu pertiwi.

Nov 26, 2007 at 14:43 o\clock

Kuala Lumpur is : Petrosains and Air Asia

Di Kuala Lumpur kami menginap di pusat kota, di depan terminal bis Puduraya. Tapi terminalnya cukup rapi. Kendaraan umum yang umumnya bis luar kota terletak di bagian basement, sedang lantai dasar tempat kami masuk adalah area tunggu dan fasilitas perdagangan. Atasnya, adalah area mall dan restoran. Jadi kita tidak terganggu dengan suara deru bis yang ada di lantai basement. Basement juga tidak sesak orang, yang ada di sini cuma bis. Penumpang biasanya turun ke bagian bawah, cuma saat bis sudah mau berangkat. Di sini ga ada yang mau nunggu bis ngetem dengan duduk di dalam bis. Mungkin mereka sudah benar-benar takut dengan efek gas buangan dari emisi kendaraan, ya?

Kuala Lumpur bagiku tidak jauh beda dengan jakarta, rumahku saat pulang lebaran. Yah, karena aku memang cuma pulang ke rumah jakarta untuk liburan. Tidak pernah sekolah di sana, dan tidak punya sahabat di sana. Persis seperti di Kuala Lumpur ini. Jalannya juga banyak yang macet, taksinya juga banyak yang ga mau pakai argo. Gedung-gedung parkir yang ada di tengah kotanya juga banyak yang tidak mengalami proses maintenance secara berkala, cat-catnya mengelupas dan dindingnya menghitam. Padahal masih berfungsi sebagai gedung parkir, di jalan utama kota Kuala Lumpur.

Yang membuatku sadar aku tidak berada di negaraku adalah, PETROSAINS dan AIRASIA. 

Perusahaan minyak milik malaysia ini, Petronas mampu memberikan sumbangan berarti bagi bangsanya berupa rekreasi penuh dengan unsur pendidikan, yang sebagian besar berisi alat simulasi. Memang konsepnya : RASAKAN DAN ALAMI SENDIRI. Proses pembelajaran yang sangat ideal yang pernah kupelajari, karena mengikut sertakan seluruh panca indera seorang anak, sehingga proses recover dan memori data pada otak didukung secara sincronize oleh seluruh tubuh.

Mas Gun yang erat kaitannya dengan Migas dan Pertamina dalam kesehariannya, langsung kubisikki, "Kapan Pertamina dan Migas, bikin yang begini ?"

Dalam iklan yang mereka tayangkan saat kita diajaka berkeliling lorong dengan kereta berputar, ditayangkan promosi, " Eksplorasi demi kejayaan bangsa." Wah...... jadi ingat di Indonesia dengan Taman Pintar yang baru di Jogja. Someday, we'll be the best. 

Nov 26, 2007 at 14:17 o\clock

SINGAPORE, I will come back with my student !

Rencana awal, begitu memasuki Singapore kita akan langsung naik cable car / kereta gantung pulang pergi menuju Sentosa Island, dengan harapan sebelum menjelajah Singapore, kita sudah pernah lihat gambaran umum kota dari atas. Buatku sih, mau cocok-cocokan dengan peta udaranya wikimapedia, he....he....

Tapi karena antrian di imigrasi cukup panjang, langit diluar Harbour front sudah tidak cerah dan tidak akan mendukung sesi pemotrean udara versiku. Dan rencana itu memang akhirnya jadi batal sama sekali, karena terminal cable car terletak di Harbour Front menuju Sentosa Island. Padahal begitu saat ini kami meninggalkan harbour front, esoknya tidak akan kesini lagi, karena 2 hari ke depan di Singapore kita sudah ikut paket Seeightseeing yang full banget tujuannya, pakai berbagai model kendaraan mulai bis atap terbuka, kapal pesiar, bis wisata. Lokasi yang dikunjungi sekitar 22 lokasi, 5 tour berpemandu baik siang maupun malam. Eh..... dasar sedang rejeki juga, paket untuk 2 hari ini yang semula melalui email kuterima data harga 29,7 SGD, saat kita datang justru sedang turun jadi 23 SGD ( sekitar Rp. 146.000) untuk 2 hari. Kalau mau 6 hari malah cuma 63 SGD, ditambah naik balon udara, 55 lokasi tour, dsb.

 

Never mind, forgeted cable car. Next time I will come back with my student! That's my big dream. 

Nov 19, 2007 at 21:11 o\clock

Migrasi Singapore Bikin Geli!

Sesampai di Bandara Hang Nadim, Batam, kami langsung beli tiket fery. Seperti data yang kudapat, memang benar adanya bahwa membeli tiket di Bandara lebih murah 2SGD dibanding beli tiket di pelabuhan Batam Centre. Tiket di sini, 12 SGD utk one way dan 14 SGD untuk PP. Setelah itu kami langsung cari makan siang sekaligus sholat dhuhur dan ashar. Di kantin Dharma Wanita kami cuma kebagian menu soto. Nasinya terpisah dari kuah, sedangkan kuahnya berbentuk soto yang bumbunya pakai santan kental, dagingnya cukup banyak. Menu yang dipesan 2 porsi, kami habiskan bertiga pun masih tersisa. Sedangkan Chita pilih makan popmie. Total bill kami sekitar Rp. 45.000,- Dari Bandara menuju Batam Centre semua taksi tarifnya sama, Rp. 70.000,-

Dari pelataran Batam Centre kita masuk melalui pertokoan yang langsung dihubungkan dengan jembatan ke Mall Batam. Di bagian Imigrasi sebelah kanan pintu, kami menunjukkan pasport dan membayar fiskal Rp. 500.000 / orang. Karena usia Chita dibawah 12 thn, makanya dia bebas fiskal dan diminta memfoto kopi passportnya. Fotokopi 3 lbr, biayanya Rp. 3000,- (tiga ribu), kontan Chita langsung tersedak.....! He..... 10 x dengan di sekolahku.......

Ferry yang kami naiki cukup nyaman. Lama perjalanan, 45 menit. 15 menit pertama sinyal hp simpati mama hilang. Tapi hpku dan mas Gun berubah provider. Milik Mas berubah jadi Singtel, punyaku jadi Starhub. Padahal kami tidak meminta pelayanan khusus apapun dari pihat Matriks saat berangkat dari Indonesia.

Di benakku sudah terhambar rincian pertanyaan sekaligus jawaban yang biasanya diajukan bagian imigrasi. Saat giliranku tiba diperiksa kelengkapan pasport, pertanyaan yang muncul dari petugas yang sejak awal memang terlihat galak, adaah :

Petugas : "Pergi lak mana ?"

Tata bahasa ini tidak jelas bagiku, sehingga minta diulang dua kali. Tujuan kedatangan atau tujuan tempat menginap ya? Dengan hati-hati, kujawab, "Singapore, Sir."

Petugas : "Singapore, lak mana ?" intonasinya makin keras dan tinggi.

"Aduh....lak mana lagi.....", pikirku. Sementara Mas Gun, Chita dan mama sudah keluar dari bagian pemeriksanaan. Sementara aku mencoba memilih kata-kata Ingris yang tepat, petugas itu kembali membenakku, " Id card"

Spontan kukeluarkan KTP. Dia meneliti dan langsung mengangguk. Aku lolos sambil senyum gemas, tidak terpikir untuk mempelajari bahasa gaul sehari-hari di sebuah lokasi asing. Kamus Alfalink terlengkap pun, dengan kemampuan rekam suara dan mengrtikan, pasti susah menterjemahkan jenis ini.

Mamaku terbahak-bahak mendengar ceritaku. Dia bahkan masih terus mentertawakan kisahku ini setiap hari sepanjang perjalanan kami terus menerus.

Nov 19, 2007 at 20:52 o\clock

Penerbangan Air Asia Pertama Bagiku

Pertama masuk, langsung kagum karena pesawat yang kebetulan kunaiki ini masih baru. Dengan interior yang masih mulus dan baru jadi menghilangkan ingatanku pada canda teman-teman selama ini, "Hati-hati lho, nanti bautnya tinggal satu."

Dibanding kenangan atas pengalamanku naik pesawat Merpati beberapa tahun yang lalu, take of kali ini jauh sangat mulus dan menghilangkan rasa traumaku di masa lalu. Aku pun bernafas lega, sopirnya jago banget ! Waktu penerbangan menuju Batam sekitar 1 jam 40 menit. Di perjalanan, cuaca sempat mendung, sampai di Batam justru kondisi sedang hujan. Nah, ini..... seperti apa rasanya mendaratnya Air Asia saat hujan ya.

Sama mulusnya, seperti tadi. Mas Gun yang tadinya sering tugas kantor menggunakan Garuda, bahkan waktu kusarankan menuju Palembang, mencaba Air Asia, dijawab, "Ogah, gengsi dong ! Dibayar kantor ya naik Gauruda, dong.!

Mengalami pendaratan ditengah hujan, spontan mengeluarkan komentar, "Pilotnya bagus-bagus, lebih baik dari pada pengalamanku setiap bulan pulang pergi selama ini." Alhamdulillah, rejeki memang tersebar di manapun, dengan cara dan bentuk apapun.

Nov 19, 2007 at 20:36 o\clock

Dari Jakarta Menuju Batam

Berangkat dari rumah Pondok Kelapa jam 7 pagi, meski penerbangan yang kami pilih terjadwal, pukul 11.25 dan sampai di Batam pukul 13.00. Baru sekali ini aku menuju bandara Soekarno Hatta naik bis Damri, karena biasanya pasti ada keluarga yang ngantar. Semua ini memang sudah jadi bagian dari rencanaku, supaya kelak para mahasiswaku dapat mengikuti rute backpackerku beserta rincian biaya yang dapat diperkirakan. Dari Metropolitan Mall, Bekasi, tarif bis Damrinya Rp. 23.000 (Dua puluh tiga ribu Rupiah).

Sampai di Bandara Cengkareng sekitar pukul 10.00, tepat waktu seperti yang kami prediksi. Check in menggunakan internet yang sudah diprint out langsung di konter Air Asia berjalan mulus, dan kami langsung memasuki ruang tunggu dengan nyaman.

Banyak yang memberi info bahwa penerbangan dengan Air Asia serng mengalami delay, makanya tadi malam aku sempatkan untuk cek di internet tentang jadwal keberangkatan, tidak ada masalah. Meskipun demikian, sampai di ruang tunggu,  aku langsung bertanya pada petugas Air Asia tentang jadwal keberangkatan kami, dan dijawab : "Tepat sesuai jadwal." Alhamdulillah. 

Nov 18, 2007 at 15:37 o\clock

Di Jakarta melepas Lelah

Nyampe rumah, semua seperti yang kuharapkan. Bertemu dan memuaskan rindu pada keponakan yang baru lahir. Tapi entah kenapa, badan serasa masuk angin. Dalam keadaan pusing berat, kucoba membuka laptop mencari url untuk semarang backpacker dulu, tapi ga bisa konek. Waktu mencoba mengisi blog ini, ampun..... bahasa pegantarnya berubah jadi asing banget. Entah Jerman, entah Belanda........ bikin kepala semakin pusing.

Saat ingin mencoba kembali tidur, baru teringat, aku mesti kembali ke poses awal nih, supaya bisa meneruskan laporan perjalanan. Dan malam ini, jadilah, tulisan ini.

 

Nov 17, 2007 at 19:47 o\clock

Semarang to Jakarta

    Selepas maghrib kita bersiap menuju Jakarta by bis Nusantara. Berhubung ada rapat jurusan mendadak, beberapa jadwal yang sudah dirancang terpaksa mesti dilepas. Les Primagama Chita sesi hari sabtu ini, juga tidak terkejar, sama dengan jadwal mengajar yang tadinya mesti kulakukan pada jam 16.00 setelah bertukar jadwal dengan bu Ony.

    Untungnya, Si Eko, siswa kelas sore sempat mengingatkan untuk membawa CD Tutorial Autocad. Sebelum berangkat masih sempat kontakan sebelum aku kembali terlupa.  30 menit sebelum berangkat, kami ketemuan di counter bis Nusantara. Eko juga masih sempat bawain leaflet Tirta Arum Kendal, studi kasus penelitianku.

    Di dalam bis kami benar-benar kelelahan. Tak banyak waktu selain langsung melepas mimpi. Chita sih, masih sempat mengulas kisah-kisah lucu dari gurunya di sekolah. Beberapa sms selamat jalan kuterima di jalan, termasuk pak Djarot yang minta alamat website yang dulu pernah kubuat.

 

Nov 17, 2007 at 00:15 o\clock

From Semarang to Singapore

Nanti malam rencana keberangkatan menuju Singapore sudah di depan mata. Bagiku terasa hampir anti klimaks karena rasa ingin tahu yang berbuah pencarian tahu, sudah kumulai beberapa bulan yang lalu. Tinggal Chita dan mama yang masih penuh rasa antusias dan keinginan tahu yang sangat besar.

Namun demikian, konon banyak teman-teman, terutama di jam'iyyah yang menunggu cerita perjalanan ala backpackerku ini. Dan kelak dapat bergabung, di lain waktu. Kapan lagi, Semarang-Singapore PP, dengan budget 1 jutaan!.

Pagi ini, bersama-sama tim dari jurusan Arsitektur Untag, aku berkumpul untuk membahas perubahan Kurikulum yang sedang kami godok. Sementara Chita harus ikut kursus tambahan dulu, sebelum meninggalkan pelajarannya selama satu minggu. Setelah itu, dia harus menyelesaikan project penelitiannya di klub sains nya bersama pak Hari. Sementara aku sejak pagi mulai mengevaluasi beberapa mengajar dan janji ketemuan dengan mahasiswa pagi dan kelas sore. Maklum, hari sabtu khan dikangeni semua orang.

Benar-benar hari sabtu yang mengasyikkan. Semoga langit cerah, sehingga kesehatanku juga tidak mudah lelah dan drop seperti biasanya. Amin.