Beda Antara Ide dan Mimpi
Seseorang seringkali mendadak kegirangan karena merasa menemukan ide kreatif. Segera menawarkan idenya kepada orang-orang di sekelilingnya. Semua senyummanis, memberi doa, dukungan dan ...... janji yang realisasinya tidak terjadwal dengan antusius.
Sesaat kemudian ada orang memiliki ide yang sama, merancang dengan teliti dan profesional. Menjawab semua pertanyaan dengan tangkas, menawarkan pada semua orang dengan rasa persahabatan. Dan berbondong-bondong orang mengikuti langkahnya, mempercayai ucapannya, bahkan ingin berbaris di belakangnya untuk menjadi asistennya.
Mudah sekali ditebak. Bahwa orang yang pertama tadi menyebarkan mimpinya. Sedangkan orang yang kedua menyebarkan ide kreatifnya.
Saat orang lain tidur, aku duduk di warnet sampai tengah malam. Saat pagi-pagi orang baru saja hendak mandi, aku sudah duduk di warnet. Semuanya kulakukan untuk menyempurnakan ide ku setahun yang lalu saat mengajukan usulan penelitian dengan tema, PERILAKU ANAK-ANAK DI OBYEK WISATA. Ide penelitian yang kukirim tahun 2006, didanai pada tahun 2007. Ide semakin lebih realistis, saat jaringan dengan bisnis pariwisata internasional sudah terbentuk. Rekening-rekening khusus yang sudah terseleksi dari kemungkinan kejahatan maya sudah jalan. Berita mulai tersebar sewaktu keberangkatan menuju lokasi diharapkan hasil beritanya oleh para sahabat yang menunggu manfaat kepergian dan pengumpulan data ini bagi orang banyak.
Karena ini adalah sebuah IDE bukan MIMPI, maka dia harus aplikatif dan bermanfaat bagi orang lain, dan diri serta keluargaku sendiri. Termasuk membawa ibuku, sebagai test case route yang layak bagi orang seusianya, seusia putriku, dsb.
Aku mungkin tidak punya banyak waktu untuk bermimpi, karena selalu tidur dini hari. tapi aku tidak pernah mencuri ide orang, karena dunia akan melihat, sebuah ide membuat dunia semakin hidup. Dan sebuah mimpi, tidak punya pengaruh bagi si pemimpi sekalipun.
